Provokasi DAMAI

Saatnya Jurnalis(me) melakukan upaya PROVOKASI damai

Thursday, November 04, 2004

Bahasa Jurnalisme

PENGANTAR:
Tulisan ini disarikan dari beberapa bahan bacaan. Tulisan ini juga menjadi salah satu bagian dari bahasan di dalam skripsi saya yang berjudul Pers di Daerah Konflik: Antara Jurnalisme Damai dan Perang (Studi Analisis Bahasa Berita Konflik Aceh di Harian Serambi Indonesia). Tulisan ini juga, saya presentasikan dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar yang diadakan Majalah Perspektif Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 23 Mei 2004.

Tulisan ini banyak kutipannya dari sumbernya seperti Jurnal KUPAS terbitan Yayasan KIPPAS Medan, Jurnal PANTAU terbitan ISAI Jakarta, dan beberapa kutipan dari beberapa buku terbitan ISAI. Namun karena satu dan lain hal, refernsinya tidak muncul.

Selamat Menikmati.

===============================================

Pemakaian bahasa yang beragam memang menarik bagi siapa saja yang membacanya. Berita cerita yang disajikan akan lebih hidup dan alur cerita akan mudah diikuti. Memakai bahasa yang itu-itu saja akan membuat orang yang membacanya akan bosan dan menjemukan karena sajian dan ulasan berita yang kaku dan hambar. Seperti penggunaan kata "kapal terbang" lebih dari dua kali dalam sebuah berita akan sangat menjemukan. Kemahiran wartawan akan menyiasati kata "kapal terbang" dengan kata sinonim lainnya, seperti kata "pesawat udara", "besi terbang", atau lainnya yang sama maknanya dengan padanan kata itu.

Dalam memberitakan realitas konflik, baik konflik horizontal seperti yang terjadi di Ambon, Maluku Utara, Sambas, Sampit, Ketapang, Bayuwangi, maupun konflik vertikal seperti yang terjadi di Acheh, Papua dan Timor Leste (dulunya), media cenderung melakukan praktik politik bahasa. Seperti penyebutan Gerakan Separatis Acheh (GSA), Gerakan Pengacau Keamanan Papua, separatis, Pengacau liar, Kelompok Putih, Kelompok Merah, dan lain-lain. Pemakaian kata-kata itu bisa dilihat sebagai sebuah usaha pemaknaan realitas melalui kata-kata yang terpilih.

Hal ini tidak terlepas dari pemilihan fakta yang dilakukan media. Dalam pemilihan fakta ada dua kemungkinan yang akan dilakukan media: apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded). Dalam proses penulisan fakta berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih disajikan kepada khalayak. Gagasan itu diungkapkan dengan kata, kalimat dan proposisi dengan bantuan aksentuasi foto dan gambar, serta grafis yang mendukung.

Saat sudah menemukan fakta yang dipilih, maka si wartawan akan memilih sudut pandang (angle) berita yang akan diberitakan. Dalam pemilihan angle ini, media akan membahasakannya dengan beragam macam bahasa dan gaya bahasa. Ada yang menggunakan bahasa dalam bentuk Eufimisme; Disfemisme; Stigmatisasi (labeling), Technical Reasoning (Bahasa Teknis); Metafora; Hiperbola; Slogan (Semboyan); dan Akronimisasi.

Eufemisme
Eufemisme adalah menghaluskan fakta melalui penggunaan kata-kata atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari yang sesungguhnya.

Praktek pemaknaan melalui penggunaan bahasa eufemisme pertama kali digunakan dalam konteks budaya untuk menjaga norma-norma yang berlaku ditengah masyarakat. Penggunaan bahasa eufemisme pertama sekali untuk menyebut jenis kelamin yang dalam norma masyarakat kalau digunakan kata-kata asli akan membawa ke nuansa tabu atau porno. Hugh Rawson dalam artikel "Euphemism" seperti dituangkannya dalam bukunya yang berjudul "A Dictionary of Euphemism and Other Doubletalk", pernah membuat pengamatan yang menarik mengenai pemakaian bahasa eufemisme yang berhubungan dengan seksual dengan tujuan untuk menjaga kesopanan. Ia menemukan kata "vagina" ditemukan padanan kata sebanyak 900 buah, dan 650 padanan kata untuk "penis". Sementara ada 100 kata dan 356 padanan kata masing-masing untuk mengganti kata "menstruasi" dan "berhubungan badan".

Masalahnya kemudian adalah, ketika media memberitakan realitas selain dalam konteks budaya. Pemakaian bahasa eufemisme dalam konteks berita politik atau sosial lainnya akan menghilangkan makna yang sebenarnya. Mengganti kata-kata yang mempunyai makna buruk dengan bahasa eufemisme, realitas yang secara kasar buruk tadi bisa berubah menjadi halus. Dan akibatnya khalayak tidak mampu melihat kenyataan yang sebenarnya. Eufemisme dalam banyak hal juga bisa menipu, terutama menipu rakyat bawah. Seperti penyebutan kata "relokasi" untuk mengganti kata "penggusuran", "patroli rutin" untuk mengganti kata "operasi".

Bahasa eufemisme juga dipakai untuk menghumaniskan kelompok tertentu. Dalam konteks konflik Timor Leste pasca jajak pendapat yang dimenangkan kubu pro-kemerdekaan, pers Australia dan Barat memakai kata-kata "human", "modern", dan "perdamaian" kepada pihak Australia dan Internasional. Sementara untuk milisi pro-integrasi mereka menggunakan kata "animal", "amok", dan "kekerasan". Begitu halnya dengan konflik yang terjadi di Acheh Serambi Mekkah, media melukiskan TNI/POLRI sebagai "aparat keamanan" dan jarang menggunakan kata "tentara" atau "militer".

Disfemisme
Kalau eufemisme adalah penghalusan, maka disfemisme adalah penggunaan pengasaran bahasa. Disfemisme adalah mengeraskan atau mengasarkan fakta melalui kata atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari yang sebenarnya atau sesungguhnya.

Eriyanto, Analis dan Peneliti Media dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta berpendapat bahasa disfemisme dipakai untuk menyebut tindakan yang dilakukan rakyat bawah. Anggapan Eriyanto beranjak dari temuan Tim Peneliti dari Yayasan Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS) Medan yang meneliti pemberitaan media di Medan tentang konflik antara petani dengan PT Perkebunan Negara II (PTPN-II). Pemakaian kata itu mengeraskan dan membuat perilaku para petani itu menjadi kasar. Dengan menyebut tindakan petani sebagai "pencaplok", tergambar bahwa yang mereka lakukan itu tidak sah, ilegal, dan kare-nanya termasuk sebagai tindakan anarkis.

Dalam konteks konflik politik Acheh, Serambi Indonesia juga memakai bahasa yang berbentuk disfemisme ini. Hal ini bisa dilihat dari kata "pemerasan", "teror", "mem-buru", "peperangan" dan "pembersihan". Kata-kata ini dipakai untuk menggambarkan perilaku GAM dan usaha pihak tentara untuk menaklukkan GAM. Pemakaian bahasa yang mengasarkan dan mengeraskan fakta ini dipakai oleh elite politik atau mereka yang terlibat konflik agar mereka meraih simpati publik atau berhasil menanamkan hegemoninya.Stigmatisasi (labelling)
Mendengar kata stigma atau labeling kita segera berasumsi bahwa ada makna negatif dari kosakata itu. Artinya, saat kita memberikan label atau stigma kepada orang lain, maka secara garis besar stigma yang diberikan umumnya bernada dan bermakna negatif. Katakanlah misalnya ketika kita menyebut sekelompok orang dengan kata "pembantai!".

Stigmatisasi (labeling) adalah penggunaan kata atau istilah secara ofensif kepada seseorang atau sekelompok orang sehingga melahirkan pengertian lain dari keadaan yang sesungguhnya.

Kalau eufemisme bersifat inofensif maka stigmatisasi (labeling) justeru bersifat ofensif atau menyerang. Dengan kata lain stigmatisasi (labeling) dipakai untuk menun-dukkan lawan. Menurut Frans Magnis Suseno, stigmatisasi (labeling) menjadi unsur paling penting dalam legitimasi kekuasaan Orde Baru, padahal kekuasaan itulah yang dengan kekejaman dan korupsinya telah membawa bangsa Indonesia ke pinggir kehan-curan. Stigmatisasi itu, menurut Magnis juga telah mengakibatkan keturunan orang-orang yang menjadi PKI dicap sebagai orang yang berbahaya, dicap sebagai orang kusta yang harus dijauhi bagaikan penyakit berbahaya.

Pemakaian kata separatis, teroris, sipil bersenjata, orang tak dikenal, pengacau liar adalah upaya TNI/POLRI untuk menundukkan kalangan GAM dengan menampilkan label-label yang terkesan negatif dan perlu diwaspadai dengan harapan agar rakyat Acheh tidak memihak kepada mereka yang telah "mengacaukan" ketenteraman rakyat. Begitu halnya juga ketika GAM memberi stigma "penjajah", neo-kolonialis, bandit Jawa, kaki-tangan Jakarta kepada TNI/POLRI dan mereka yang bekerja di pemerintahan. Kesemua itu dilakukan untuk menundukkan lawan baik secara politis, psikologis maupun secara sosiologis.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti ISAI terhadap berita penembakan Teungku Bantaqiah yang diberitakan oleh beberapa media nasional seperti Media Indonesia, Republika, seperti dipublikasikan dalam Jurnal Pantau nomor 06, banyak media nasional yang memberi stigmatisasi dan menggambarkan negatif terhadap GAM. Ada banyak labeling yang ditemukan.

Technical Reasoning
Pemakaian bahasa teknis bertujuan supaya fakta sosial yang kemudian disajikan oleh media menjadi masuk akal atau logis bagi siapa saja yang membacanya. Secara proporsional pemakaian bahasa teknis memang tidak bisa dihindari, karena realitas memang harus dibahasakan dengan cara demikian agar argumentasi dan alasan yang dikemukakan masuk akal dan terlihat ilmiah. Tetapi pemakaian kata-kata teknis itu secara tidak langsung menyingkirkan publik yang tidak mengerti dengan definisi atau istilah dari pembicaraan.

Diantara contoh pemakaian bahasa-bahasa teknis adalah pemakaian kata-kata, seperti "berdasarkan Inpres nomor 4 tahun 2000", "berdasarkan Tap MPR..", dan "demi menjaga stabilitas negara". Pemakaian kata-kata tersebut sebenarnya bertujuan untuk melegitimasi tindakan tentara di lapangan untuk berbuat sesuka hati mereka. Lihat saja pemakaian kata "berdasarkan Inpres No. IV tahun 2000". Padahal jelas bahwa inpres itu memberikan ruang atau payung hukum (law umbrella) bagi militer untuk kembali melakukan operasi di Acheh. Jadi, bahasa teknis dipakai hanya untuk pembenaran tindakan seseorang atau golongan dengan mengacu pada sandaran yang dimilikinya.

Metafora
Metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, yang dipakai landasan berpikir, alasan pembenar atas pendapat atau gagasan.

Metafora pada dasarnya menerangkan sesuatu yang tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan secara langsung, jelas dan dikenal. Metafora dilakukan dengan pemroduksian konsep dan pengertian yang bisa merangkul dan menyedot perhatian khalayak untuk mengikuti dan menuruti apa yang dikehendaki dalam kata-kata tersebut.

Pemakaian bahasa metafora bisa dilihat dari kata-kata yang dipakai berupa "bersandiwara", "mengambil hati masyarakat". Kata "bersandiwara" dipakai untuk menggantikan padanan kata "bermain-main". Sementara "mengambil hati" bermakna menarik simpati masyarakat.

Zashin dan Chapman dalam artikel mereka, The Use of Metaphors and Analogy: Toward a Penewal of Political Language, dalam Journal of Politicts memberikan gambaran dan definisi metafora sebagai berikut :

"Metafora mengeksploitiasi apa yang dipakai untuk menamakan kumpulan gagasan-gagasan. Mereka berkisar atas beberapa kelompok citra, perasaan dan konotasi yang mengumpulkan kata-kata yang berlebihan. Metafora adalah sebuah seni berbicara dan prosa. Ini adalah sebuah taktik dari ekspresi yang cepat. Sementara itu, seorang pembicara atau penulis mencoba untuk meniru dan memanipulasi imajinasi pembaca dengan mengkombinasikan kata-kata. Ia bisa menyebabkan suatu gambaran yang ti biasanya atau kombinasi citra di dalam pikiran mereka."

Dari orientasi yang dikemukakan Zashin dan Chapman ini terlihat bahwa metafora adalah bahasa yang berusaha untuk membuat gambaran-gambaran tertentu dibenak pembaca dengan bermain kata-kata prosa. Makna yang dihasilkan pun akan bersifat konotatif atau bukan sebenarnya. Pemakaian metafora bisa menjadi petunjuk utama untuk mengerti makna suatu teks. Metafora tertentu dipakai oleh wartawan secara stategis sebagai landasan berpikir, alasan pembenar atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik. Selain penggunaan metafora, juga dipakai analogi. Pemakaian analogi dimaksudkan agar suatu pesan lebih tertanam, karena mengacu pada kisah kepahlawanan, episode romantik yang mudah diingat khalayak. Analogi juga digunakan untuk menunjuk referensial kisah-kisah nabi yang digambarkan dalam kitab suci untuk menyugesti khalayak.

Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa atau ungkapan yang melebih-lebihkan untuk menciptakan efek tertentu.

Hiperbola merupakan salah satu gaya bahasa yang paling sering digunakan media dalam menuliskan laporan konflik. Penggunaan hiperbola tak lain untuk mem-permainkan bahasa dan mempertahankan cerita berita untuk indah dinikmati kelang-sungannya dan agar tidak terasa kering. Namun, pemakaian bahasa hiperbola di dalam mengulas konflik bisa menimbulkan efek bagi salah satu pihak yang bertikai dan juga para pembaca. Karena hiperbola menggambarkan peristiwa tidak apa adanya. Seperti pemakaian kata "meluluhlantakkan", bagi sebuah kerusakan ringan akibat sebuah operasi militer, misalnya. Ketika membaca kata meluluhlantakkan itu, kita langsung berasosiasi pada kerusakan yang besar. Padahal kenyataannya, tidak seperti itu. Di sini-lah yang akan menjadi problem terhadap pemakaian bahasa hiperbola ini.

Akronimisasi
Akronimisasi adalah pemendekan kata atau kalimat secara tidak proporsional atau berlebihan sehingga menimbulkan kekacauan linguistik.

Sebenarnya disadari atau tidak, pemendekan kata GAM telah menimbulkan kekacauan linguistik bagi masyarakat Acheh. GAM dalam bahasa Acheh berarti laki-laki. Saat ini, ketika orang menyebut kata GAM asumsi kita ada dua: Gerakan Acheh Merdeka (Acheh Sumatera National Liberation Front, ASNLF/GAM) dan kaum laki-laki. Dalam sweeping yang dilakukan TNI/Polri, mereka sering mengucapkan "gam turun". Itu tadi asumsi kita tetap dua. Namun begitu, akronimisasi GAM telah diterima secara ‘baik’ oleh khalayak.

Ada sebuah akronimisasi yang sangat mengganggu linguistik dan pemahaman kita adalah GAM Mawar. GAM Mawar ini adalah kependekan dari Gema Assalam Mawad-dah wa Rahmah, sebuah program pengembangan desa yang diprakarsai oleh Gubernur Abdullah Puteh dan Marlinda Puteh.

Slogan (Semboyan)
Slogan atau semboyan adalah istilah atau kalimat pendek yang maknanya mudah diingat, memberi semangat dan menimbulkan efek menggerakkan (mobilisasi).

Dalam pemberitaan Serambi Indonesia, ditemukan pemakaian kata-kata jargon yang dilakukan GAM untuk penggambaran positif mereka. GAM menyebut tindakan mereka sebagai perjuangan, serta menyebut kepada rakyat Acheh dengan sebutan bangsa Acheh, yang mempunyai dampak psikologis sangat besar. Sebenarnya penyebutan bangsa Acheh bisa mengingatkan masyarakat Acheh pada kejayaan Acheh masa lalu sebagai sebiah bangsa (nation) dan sebuah negara (state) yang berdaulat.

Yang ingin saya katakan di sini adalah, pergunakan bahasa yang netral, tanpa memihak kepada salah satu pihak yang bertikai. Juga, hindari pemakaian bahasa yang mempunyai bias sehingga bisa menimbulkan distorsi terhadap realitas sosial yang kita beritakan.

Jika Anda ingin menggunakan kata separatis GAM, atau Indonesia Jawa, maka gunakan attribusi. Misalnya, kelompok yang oleh Pemerintah Indonesia disebut dengan Gerakan Separatis….. atau GAM menyebut Indonesia dengan kata-kata Indonesia Jawa…..

Kenetralan Anda, sangat ditentukan oleh bahasa yang Anda pakai dalam memberitakan realitas sosial.

Monday, August 30, 2004

Akurasi

"KETIDAKCERMATAN adalah dosa wartawan."Ungkapan itu telah akrab denganku sejak tahun 2000, jauh sebelum aku terjun dalam dunia wartawan dua tahun silam. Dari sebuah acara di TVRI aku mengetahuinya melalui "omongan" Parni Hadi, tokoh yang kukagumi melalui tulisan ringannya dalam rubrik Foolitik di Tabloid ADIL.

Namun, ungkapan itu, kembali terngiang di telingaku, dalam beberapa hari terakhir ini. Bukan berarti bahwa selama ini aku telah abai terhadap ungkapan sarat makna itu. Aku tetap ingat dan mencoba untuk menerapkannya. Yang membuat kembali terngiang, karena kecerobohanku dalam mengolah berita.

Jujur saja, dalam beritaku yang berjudul Dua Bronco Bombardir Markas GAM Aceh Besar yang dimuat di Suara Merdeka CyberNews edisi 29 Juli 2004, ada sedikit kesalahan yang menyebabkan kurangnya akurasi.Dalam berita itu, aku menuliskan TNI memperkirakan banyak korban yang disebabkan oleh penyerangan melalui udara itu.

Juga, TNI mengklaim menewaskan satu pasukan GAM dan menyita dua pucuk senjata. Narasumberku itu adalah Komandan Kodim 0101 Aceh Besar Letkol Inf Joko Warsito. Dia mengeluarkan pernyataan itu setelah aku dan kawanku menanyakan apakah dalam penggempuran itu ada korban.

"Di Naga Umbang, satu GAM tewas dan dua pucuk senjata disita," katanya.

Nah, pernyataan itu aku muat. Beritaku pun, naik (muat), pada siangnya, sekitar 45 menit setelah aku mengirimkannya. Sorenya, aku mengadakan liputan ke Kantor Gubernur Aceh, karena ada rapat evaluasi Darurat Sipil. Sambil menunggu rapat kelar, kami bicarakan seputar penyerangan TNI terhadap GAM yang mengerahkan Pesawat Tempur buatan Amerika, Bronco OV-10.

Aku bilang, satu GAM tewas dan dua pucuk senjata disita.

"Ah kau. Belum ada korban," kata salah seorang kawan wartawan.

"Tapi, itu pernyataan Dandim, Bang," aku membela diri.

"Masa langsung bisa diketahui korbannya. Belum ada," katanya.

"Lalu kata Dandim, di desa Naga Umbang ada tewas," belaku lagi.

"Lha, itu kejadiannya lain. Itu akibat sergapan pasukan Raiders," dia menjelaskan.

"Wah gawat. Beritaku salah," aku mengalah setelah sadar dengan kesalahan yang baru saja kuperbuat.

"Makanya, kalau yang begituan buat beritanya hati-hati," katanya lagi, memberi nasihat yang sangat berarti bagiku.

Pasca kejadian itu, aku langsung terdiam. Termenung.

Selama ini aku selalu berusaha supaya beritaku akurat. Ternyata, aku kebablasan. Aku terbayang ungkapan Parni Hadi yang kudengar 4 tahun silam.

Aku teringat ungkapan Nick, Julia dan Yusuf dua bulan silam di Medan.Aku jadi sadar, bahwa aku telah salah: abai terhadap akurasi.

Melalui media ini, aku ingin mengingatkan diriku sendiri, bahwa akurasi adalah ruh sebuah berita. Perhatikan akurasi."Akurasi lebih penting daripada kecepatan," kata Nick Nugent, dari BBC London.Kejadian itu membuat jera diriku. Semoga aku semakin lebih hati-hati.

Banda Aceh, 30 Juli 2004
radzie

Wednesday, May 19, 2004

Provokasi DAMAI

Saatnya Jurnalis(me) melakukan Upaya ProVOKASI daMAI

Sunday, May 16, 2004

AlQALAMinstitute

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Media (LPPM) AlQALAM atau disebut juga dengan AlQALAMinstitute adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh beberapa aktivis pers mahasiswa di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, pada 29 September 2001.
Lembaga ini mengkhususkan diri pada sosialisasi Jurnalisme Damai di media Aceh.
Lembaga tertarik untuk menyosialisasikan keberadaan Jurnalisme Damai di Aceh, setelah melihat realitas media terhadap pemberitaan konflik Aceh yang menerapkan Jurnalisme Perang dalam setiap pemberitaannya.
Salam damai
AlQALAMinstitute